Ego-Blog

28 Maret 2026

Aku terbangun ketika jam dinding sudah melewati sebelas malam, tapi rasanya seperti ada tangan tak terlihat yang memelintir tengkuk dan pelipisku. Kepalaku nyeri, bukan nyeri yang sekadar fisik, melainkan nyeri yang punya akar: perasaan suntuk yang menumpuk seperti debu di sudut kamar. Dalam gelap yang setengah hidup, aku menyerah pada satu keputusan kecil yang terasa seperti pengakuan kalah: membuka laptop.

Layar menyala. Dunia yang jauh di sana—yang tidak mengenalku dan tidak pernah peduli—langsung menyambut. Aku menelusuri Reddit, Facebook, YouTube, bergerak dari satu video ke video lain, dari satu potongan hidup orang ke potongan hidup orang berikutnya, seperti seseorang yang berjalan tanpa tujuan di pasar malam yang sudah hampir bubar. Di sela-sela scroll yang tak ada ujungnya, sebuah suara kecil mengingatkanku: udah ada todo untuk minggu ini loh. Tapi suara itu tenggelam oleh suara lainnya: suara notifikasi, suara rekomendasi, suara “lihat ini juga”, dan di atas semuanya, suara kepalaku sendiri yang bertanya pelan, getir: gw ngapain?

Aku turun dari kasur dan membuat jahe merah. Air panas, aroma yang tajam, uap yang merambat pelan ke wajah. Aneh, betul kata orang: jahe bisa mengatasi pusing. Hangatnya seperti tangan yang menepuk pelan punggungku, menenangkan sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Jahe seharusnya membuat ngantuk, kataku dalam hati, seperti doa kecil yang diucapkan tanpa percaya diri. Semoga bisa tidur sebelum subuh.

Tapi sebelum kantuk datang, penyesalan datang duluan. Ia datang tanpa mengetuk, duduk di tepi ranjang seperti tamu yang sudah terlalu akrab.

Aku menyesal.

Bukan penyesalan halus yang sopan. Ini penyesalan yang meledak-ledak, yang bikin dada sesak, yang bikin aku ingin memaki diri sendiri sampai suaraku habis. Aku merasa terlalu “aneh”, terlalu keras kepala pada cara pikirku sendiri, terlalu percaya bahwa ambisi selalu tampak keren di mata orang lain. Padahal kalau ditarik mundur, kalau diingat-ingat—lulus SMK aku siapa? Murid spesial bukan. Pintar? Bahkan tidak. Rank empat dari bawah, seperti catatan memalukan yang masih menempel di kening.

Hal paling bodoh yang pernah kulakukan adalah mendaftar kuliah ketika aku sudah tahu—aku kere. Sumpah. Seharusnya setelah lulus SMK aku bisa melamar kerja saja, jadi admin kek, atau masuk LPK dulu, langkah kecil yang nyata, bukan mimpi besar yang kutempelkan di diri sendiri seperti stiker “hebat” yang palsu. Terlalu ambisius ternyata tidak selalu baik; kadang itu cuma bentuk lain dari kebodohan. Kadang ambisi itu bukan semangat, tapi topeng. Dan aku baru sadar ketika topeng itu retak: aku kuliah karena menurutku itu keren doang.

Keren di mata siapa? Mungkin di mata orang yang tak pernah benar-benar melihatku.

Dan akhirnya aku ketemu orang-orang yang bukan tipeku. Kegagalan demi kegagalan seperti pintu yang tak bisa dibuka. Awkwardness yang menempel seperti bau asap di baju. Rasa asing yang terus-terusan, padahal aku sudah berusaha tampak “normal”, tampak “cocok”, tampak “bisa”.

Kalau saja aku memilih Jepang, kataku, mungkin aku bisa memperbaiki ekonomi, bekerja, lalu belajar lagi. Mungkin hidupku bisa berdiri di tanah yang lebih kokoh. Dan kalau bicara soal belajar, ada satu kata yang selalu kembali seperti mantra: MATH.

Kalau aku bisa matematika, aku yakin banyak pintu yang terbuka. SNBT pun mungkin tembus kampus besar. ITB, UNNES, UI, UGM—entahlah, mungkin. Bahasa Inggris? Aku bahkan tak merasa perlu belajar mati-matian. Pakai insting saja bisa nilai 695, hampir 700. Tapi matematika—matematika selalu jadi tembok. Nilai 400-an itu seperti cap: di sini batasmu.

Di titik itu, pikiranku mulai bermain dengan hal paling berbahaya: seandainya aku bisa jadi time traveler.

Seandainya aku bisa kembali ke hari-hari setelah lulus SMK, aku ingin menemukan diriku sendiri—bukan di tempat ramai, bukan di depan orang lain. Aku ingin menangkap dia ketika sendirian, ketika tidak ada yang melihat, lalu menamparnya. Bukan karena benci, tapi karena panik: karena aku tahu apa yang menunggu di depan. Dan kata-kata pertama yang akan kukatakan akan terdengar kejam, tapi jujur:

“Lu bukan siapa-siapa. Jangan idealis. Liat muka gw sekarang. Kerja aja. Yakin lu bakal lebih berkembang di pekerjaan daripada ketemu orang-orang yang ada di kampus.”

Lalu aku akan menambahkan hal yang lebih menyakitkan, karena itu kenyataan:

“Lu gak bakal dapet KIPK, tolol. Yang ada lu cuma iri sama temen lu yang kaya, kamar ber-AC tapi dapat KIPK.”

Kalau aku bisa lebih jauh lagi—ke masa SMP—aku ingin menculik diriku yang baru masuk sekolah. Membawanya pergi dari kerumunan, dari tuntutan jadi “asik”, dari kebiasaan pura-pura extrovert supaya kelihatan punya tempat. Aku ingin memegang bahunya dan berkata dengan nada yang tidak memerintah, tapi memohon:

“Jadi diri sendiri aja. Jangan pura-pura extrovert. Dan please—lu cerdas. Jangan hilangin kepintaran lu gara-gara hentai atau bokep. Tolong raih ranking satu. Tolong buat diri lu pintar. Jadi average itu gak enak.”

Lalu aku akan berbisik tentang hal-hal yang dulu terasa jauh, tapi sekarang terasa seperti peta kebahagiaan yang tidak kuikuti:

“Masuk sekolah favorit. Kalau bisa, cari beasiswa ke luar negeri. Keluar negeri, ya. Di sana lu bakal bahagia. Karena apa? Belajar. Coding. Dan yang paling penting: internet. Forum-forum di Reddit, anonymous board, lainchan—semua itu seru. Dan satu lagi… nikmatin momen sama temen-temen lu. Banyakin main.”

Kalau aku bisa kembali lebih jauh lagi, ke masa SD, aku ingin duduk di samping diriku yang kecil, yang pendiam, yang sebenarnya suka mikir hal-hal besar tapi belum punya bahasa untuk menamainya. Aku ingin menyuruh dia membaca semua buku yang ada di rumah, minta dibelikan buku bagus walau cuma bisa dari Gramedia. Aku ingin mengatakan: suatu hari kamu akan suka filsafat, ketuhanan, pertanyaan-pertanyaan yang orang dewasa suka hindari.

Dan aku akan mengulang kata itu lagi, seperti doa yang tak pernah selesai:

“Tolong jadi cerdas. Tolong belajar.”

Karena tanpa belajar saja, dulu aku bisa ranking sembilan. Kalau aku belajar, siapa tahu olimpiade matematika bisa kulibas. Dan kalau konsisten, aku bisa pindah ke competitive programming—lebih seru daripada game. Game yang dulu kuanggap pelarian, pada akhirnya akan terasa hambar, biasa-biasa saja. Tapi ngoding—ngoding bisa jadi semacam sihir. Menulis sesuatu dari nol, mengerti mesin, mengerti logika, membuat program keren, kontribusi ke open source. Hidup bukan lagi cuma menonton, tapi mencipta.

Industri? Aku ingin tertawa pahit. Ternyata industri itu ampas di kepalaku, atau mungkin aku saja yang salah tempat. Cita-cita jadi orang kantoran—baru magang saja aku sudah malas buat lanjut. Aku lebih suka ngulik Linux, mengutak-atik, menggali.

Andai aku jago programming—apalagi C—aku yakin aku bisa bahagia. Bahagia yang sederhana: menjadi seseorang yang punya tempat di komunitas, menjadi orang yang berguna, menjadi orang yang bisa mengerti dunia lewat kode.

Dan pada akhirnya, di antara semua hal yang kupikir paling penting, satu kata tetap berdiri paling tinggi, paling keras, paling tanpa ampun:

“MATH.”

Bisa matematika rasanya seperti bisa segalanya. Aneh, aku bahkan bego aljabar, tapi somehow aku dapat A di linear algebra. Seperti hidup yang suka bercanda, memberi sedikit kemenangan supaya aku tidak benar-benar menyerah.

Tapi aku tetap berada di kampus medioker, tersiksa. Tidak tahu setelah lulus mau jadi apa. Tidak merasa spesial. Tidak merasa punya arah.

Malam makin tua. Jahe merah di gelas sudah tinggal hangat yang terakhir. Dan aku masih terjaga, menatap layar, menatap hidup, seperti seseorang yang berdiri di peron kosong—menunggu kereta yang entah akan datang, entah tidak—sambil bertanya dalam hati, pelan, berkali-kali, sampai kata-kata itu kehilangan bentuk:

Aku ini sebenarnya mau ke mana?